• Family
  • Health Guidance

3 Jenis Kesulitan Belajar yang Paling Sering Dialami Anak

| Written by Squlio

Pada saat anak mulai memasuki usia prasekolah dan sekolah dasar, tak bisa dipungkiri bahwa terkadang kita akan membandingkan buah hati kita dengan teman sebayanya. Saat buah hati kita ternyata mengalami kesulitan belajar yang membuatnya belajar membaca dan menulis, atau berhitung lebih lambat dari teman-temannya, Anda tidak boleh berkecil hati. Pahami apa yang mereka alami karena Anda tentu menginginkan yang terbaik untuk mereka, bukan?

kenali jenis kesulitan belajar yang sering dialami anak
©Joburg West

Definisi Kesulitan Belajar Menurut Para Ahli

Apabila kita memiliki buah hati yang mengalami kesulitan belajar, kita harus lebih peduli dan memberi dukungan kepada mereka. Untuk memahami apa yang sebenarnya mereka alami ini, berikut ini ada beberapa pendapat para ahli mengenai kondisi kesulitan belajar:

  • Menurut Lyon (1996), konsep kesulitan belajar (learning disability) fokus pada kesenjangan antara prestasi akademik dan kapasitas kemampuan belajar anak. Contohnya pada anak dengan kesulitan membaca juga akan mengalami gangguan pemusatan perhatian pada tingkat tertentu. Anak-anak dengan learning disability memiliki intelegensi umum rata-rata dan bahkan di atas rata-rata.
  • Samuel Krik (dalam Hallahan, Kaufman & Pullen, 2012) menyatakan bahwa kesulitan belajar memiliki banyak jenis yang digunakan untuk mendeskripsikan siswa dengan inteligensi normal, namun memiliki masalah dalam belajar seperti kondisi minimally brain injured, slow leaner, dyslexic, atau perceptually disabled.
  • Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) mendefinisikan specific learning disability (kesulitan belajar spesifik, yang kemudian disingkat dengan SLD) sebagai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologikal termasuk pemahaman atau penggunaan bahasa, berbicara atau menulis, gangguan yang termanifestasi pada kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau melakukan kalkulasi matematika.
  • The National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mendefinisikan pengertian kesulitan belajar sebagai istilah umum terkait dengan sekelompok variasi atau berbagai gangguan. Heterogenitas gangguan ini dimanifestasikan pada kesulitan yang signifikan dalam menggunakan dan memperoleh berbagai kemampuan, seperti mendengar, berbicara, membaca, menulis atau matematika.

3 Jenis Kesulitan Belajar yang Paling Umum

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori maupun ekspresif di dalam proses belajar. Gangguan ini dapat terjadi di berbagai tingkatan kecerdasan, namun learning disability lebih terkait dengan tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas normal. Anak-anak yang berkesulitan belajar memiliki ketidakteraturan dalam proses fungsi mental dan fisik yang bisa yang bisa menghambat alur belajar yang normal, menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan perseptual motorik tertentu atau kemapuan berbahasa. Umumnya masalah ini tampak ketika anak mulai mempelajari mata-mata pelajaran dasar seperti menulis, membaca, menghitung, dan mengeja.

Nah, berikut ini ada 3 jenis kesulitan belajar yang paling sering dialami oleh anak.

1. Kesulitan Membaca (Disleksia)

Kesulitan belajar yang satu ini mungkin sudah akrab di telinga kita. Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan membaca biasanya juga mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata (misalnya huruf atau suara yang seharusnya tidak diucapkan, sisipan, penggantian atau kebalikan) atau memahaminya (misalnya, memahami fakta-fakta dasar, gagasan, utama, urutan peristiwa, atau topik sebuah bacaan). Beberapa ahli berpendapat bahwa kesulitan mengenali bunyi-bunyi bahasa (fonem) merupakan dasar bagi keterlambatan kemampuan membaca, di mana kemampuan ini penting sekali bagi pemahaman hubungan antara bunyi bahasa dan tulisan yang mewakilinya. Anak yang mengalami disleksia memiliki ciri-ciri seperti:

  • Tidak lancar dalam membaca
  • Sering banyak kesalahan dalam membaca
  • Kemampuan memahami isi bacaan sangat rendah
  • Sulit membedakan huruf yang mirip

2. Kesulitan Menulis (Disgrafia)

Berdasarkan hasil penelitian di negara-negara maju, 80% dari populasi murid sekolah menengah tidak dapat menulis dengan baik dan 50% tidak menyukai proses menulis. Di kalangan pendidikan luar biasa, angka-angka ini pasti lebih besar, karena sebagian besar anak luar biasa mengalami kesulitan menulis.

Ada 3 jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dikte, dan menulis ekspresif. Karena menulis merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting untuk mendukung proses belajar anak secara keseluruhan, maka kesulitan belajar menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Anak yang mengalami disgrafia memiliki ciri-ciri seperti:

  • Tulisan terlalu jelek atau tidak terbaca
  • Sering terlambat dibanding yang lain dalam menyalin tulisan
  • Tulisan banyak salah, banyak huruf terbalik dan hilang
  • Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris
  • Menulis huruf tidak sesuai dengan kaidah bahasa

3. Kesulitan Berhitung (Diskalkulia)

Berhitung adalah salah satu cabang matematika. Ada 3 elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah konsep, komputasi, dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Anak yang mengalami diskalkula biasanya memiliki ciri seperti:

  • Sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan
  • Sering sulit mengoperasikan hitungan/bilangan meskpun sederhana
  • Sering salah membilang dengan urut
  • Sulit membedakan angka yang mirip, misalnya angka 6 dan 9, 17 dengan 71
  • Sulit membedakan bangun-bangun geometri

Memiliki anak yang mengalami kesulitan belajar memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra dari orang tua dan guru dalam menghadapinya. Akan tetapi, sebagai orang tua, Parents harus tetap menyadari bahwa tidak ada anak yang terlahir “bodoh”. Maka sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mendampinginya dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialaminya dan membangun kepercayaan atas kemampuannya.